Sunday, June 16, 2019

Bersekolah di Pesantren (Bagian 1)

Kemaren malam, adalah waktu kembalinya santri kelas 9 untuk kali terakhir ke pondok, sebelum mereka tamat di level SMP. Sulungku, tanpa banyak alasan lagi terlihat ikhlas dan semangat mempersiapkan semua perlengkapannya untuk balik ke pondok malam itu. Tidak seperti hari-hari sebelumnya, bahkan hari-hari balik ke pondok saat dia masih di kelas 7 dan 8, yang penuh dengan drama dan terkadang air mata. 

"Abang tinggal dua pekan lagi di pesantren, setelah itu abang bebas,"serunya dengan rasa senang.

Ah nak, tahu kah kamu, perasaan bunda campur aduk melihat ekspresimu. Tidak kah kamu bahagia selama tiga tahun di pesantren? Sebegitu menderitanya kah kamu di sana? 

"Äbang kayak di penjara Bun, pulang sekolah ga bisa main kemana-mana,'' jelasnya tanpa diminta.
''Loh, bukannya setelah belajar usai, kalian bebas bermain sampai waktu maghrib tiba?" tanyaku.
''Iya sih, tapi aku maunya main ke luar pesantren, menikmati suasana lain".
"Tapi kelak abang pasti akan merindukan pesantren, para ustadz dan teman-teman", lanjutku.
"Iya mungkin Bun," jawabnya 

Itu sedikit dialog yang terjadi antara aku dengan si Sulung yang sebentar lagi mau kembali ke pondok untuk yang terakhir kalinya. 

******

Ingatanku kembali ke masa tiga tahun yang lalu, saat pertama kali mengantar Sulungku ke pondok pesantren. 

Semua perlengkapan dan kebutuhannya selama sekolah di pesantren sudah jauh-jauh hari dipersiapkan. Tepat tanggal 16 Juli 2017, kami sekeluarga di pagi menjelang siang itu berangkat ke pondok pesantren untuk mengantar si Sulung yang dipanggil Abang di rumah. Semua pakaian (baju, celanan, pakaian dalam) sudah disiapkan dalam tas koper; perlengkapan mandi seperti sabun mandi, sabun cuci, shampoo, termasuk ember dan gayung; semua buku dan alat tulis lainnya; dan lain-lain sudah siap. 

Saat itu kepala saya sakit sekali, dan tidak reda meskipun sudah minum obat. Tapi saya tetap memaksakan diri mengantar Abang ke pondok. Setelah sampai dan memindahkan semua perlengkapannya ke lemari yang ada di kamarnya di pondok yang akan dia tempati, kami belum segera pulang. Abang belum mau langsung ditinggal, walaupun hari sudah mulai sore dan gelap karena hujan. Sebetulnya perasaan sedih sempat menguasai diri ini, dan hampir saja air mata tumpah saat ngobrol bersama Abang sebelum meninggalkannya. Namun saya segera tersadar dan menguasai diri. Orang tua mana sih yang tidak sedih, meninggalkan anaknya hidup di pondok pesantren, jauh dari orang tua, dimana si anak juga belum mandiri secara penuh? Karena kepala yang masih sakit, membuat saya tidak kuat berlama-lama di pondok untuk menemaninya, dan akhirnya saya minta ijin ke abang untuk dapat segera pulang. Akhirnya kami semua pulang meninggalkannya di pondok. 

Sampai di rumah badan saya mulai panas. Saya demam dan menggigil. Besoknya periksa ke dokter dan ternyata, thypus saya kambuh.

Ada untungnya saya sakit, karena saya jadi tidak fokus dan kepikiran Abang terus, yang bisa membuat saya sedih dan menangis lagi. Walaupun saya sudah jauh-jauh hari menimbang segala konsekuensi menyekolahkan anak di pondok, dan menyiapkan diri untuk itu, tetap saja perasaan sedih itu menyeruak tiba-tiba. 

******


Saat Abang duduk di kelas 5 SD, kami sudah mengenalkannya dengan pondok pesantren. Di awal kami perlihatkan video berbagai pondok pesantren yang ada di youtube. Kami perlihatkan pondok-pondok dimana beberapa kakak sepupunya bersekolah di tempat tersebut. Kami jelaskan tentang aktifitas, rutinitas dan kehidupan di pondok. Abang juga kami ajak silaturrahiim ke rumah sepupunya untuk bisa mendapatkan cerita dari pengalaman kakak sepupunya yang bersekolah di pondok. 

Bersyukurnya kami, hampir semua kakak sepupu Abang bersekolah di pesantren saat level SMP, adapun yang tidak mondok, namun bersekolah di MTsN (sekolah agama). Hal ini lebih memudahkan dalam mendapatkan informasi yang benar dan valid.

Saat Abang sudah duduk di kelas 6, kami membawanya berkunjung ke pondok pesantren tempat sepupunya bersekolah, hitung-hitung sekalian menengok keponakan (kakak sepupunya). Kami mulai mencari informasi lebih banyak tentang pesantren. Akhirnya kami memilih tiga pondok pesantren, dan mendaftarkan Abang untuk mengikuti tes masuk di sana. Kami memilih pesantren yang tidak jauh dari tempat tinggal. Masih dalam provinsi yang sama, dan dapat dicapai 1-1,5 jam perjalanan dari rumah (sudah dihitung dengan macet-macetnya).  Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan saat membesuknya. Dan kalau ada hal urgen, kami dapat segera tiba di pondok. 

Dari tes di tiga pondok, Abang lulus di dua pondok. Dan dari dua pondok tersebut dia sendiri yang memutuskan bersekolah dimana, dan kami orang tua tinggal menyetujui. Walaupun kami lebih senang dia memilih pondok yang satu kota dengan tempat tinggal, tapi ya sudahlah, kami tetap setuju dengan pilihannya. 

******

Sebelum memasukkan Abang ke pondok kami sudah menjelaskan alasan kami orangtua menyekolahkan Abang (dan juga kelak adik-adiknya) di pondok pesantren. Tidak sekali dua kali kami menjelaskan hal tersebut. Hal ini dengan maksud dia termotivasi sekaligus paham akan tujuannya bersekolah di sana. Bahkan saat dia sudah di tahun kedua dan ketiga di pondok pun kami perlu me-refresh akan hal tersebut. Untuk meluruskan kembali niat dan motivasinya dalam belajar di pondok.

Kami memasukkan anak-anak ke pesantren di level SMP, dengan beberapa alasan. Yang pertama: agar mereka mendapatkan pengetahuan agama yang lebih baik (setidaknya lebih baik dari kami orang tuanya). Dengan pemahaman agama yang lebih baik, kami berharap itu akan menjadi modal dasar bagi mereka untuk menghadapi kehidupan di masa depan, yang pastinya lebih menantang, lebih kompleks, lebih "heboh" dari saat sekarang. Dimana akal pikiran mereka perlu dituntun/dipandu dengan pemahaman agama yang baik saat mereka menghadapi suatu persoalan kehidupan, dimana orang tua jauh bahkan mungkin sudah tidak ada lagi di sisi mereka, untuk dapat memberik masukan/nasehat. Kami berharap mereka dapat hidup bermartabat dan selamat, di dunia dan akherat. Kalaupun kelak mereka sudah lupa dengan semua pelajaran yang diberikan di pondok, tapi saya punya keyakinan, pasti ada hal-hal baik yang akan dia ingat, dan itu dapat menjadi obor bagi dia, untuk kembali menemukan jalan yang semestinya, saat mereka mungkin "tersesat'' dalam perjalanannya di kehidupan ini. 

Yang kedua, tunggu lanjutannya ya. 😍


Thursday, June 13, 2019

Tentang Novel "Single in Love" Karangan Sinta Yudisia

Saat dibuka PO untuk novel Sinta Yudisia ini, saya langsung daftar. Saat daftar ikutan PO novel ini, saya tidak tahu sama sekali isi novel ini, bahkan temanya pun saya tidak tahu. Yang saya tahu cuma penulisnya saja, dan saya sudah jatuh hati dengan tema-tema tulisan Mba Sinta ini, gaya menulisnya, alurnya, semua saya suka. Point yang saya suka adalah, selalu ada hikmah yang sangat menginspirasi bagi kehidupan pembaca (saya maksudnya), menambah wawasan, dan yang pasti saat mengisahkan tentang cinta anak manusia pun semua tersampaikan secara elegan dan tidak vulgar (hal ini telah saya tulis dalam tulisan lain di blog ini tentang buku karangan Mba Sinta yang lain). Sehingga saat saya menyimpan buku-buku karangan Mba Sinta di rak buku di rumah, saya tidak perlu khawatir anak-anak remaja saya akan ikut membaca buku-buku tersebut.

Setelah lama menunggu, akhirnya di Bulan Ramadhan 2019, saya mendapat kiriman buku tersebut. Saya ikut PO di akhir Bulan Februari 2019 dan bukunya baru sampai tanggal 20 Mei 2019. Saya sabar menunggu, hehehe. Karena bukunya sampai Bulan Ramadhan, saya belum buka kemasan buku tersebut. Saya baru akan membaca buku tersebut selesai Ramadhan. Oh ya buku tersebut harga normalnya Rp 95.000, tapi karena saya ikutan PO, saya hanya dikenakan harga Rp 82.000.


Saat buku tersebut sudah sampai rumah, dengan sampul plastik yang masih utuh, suami sempat membaca bagian belakang buku tersebut. Setelah itu suami berkomentar, kalau dia tidak suka istrinya membaca buku tersebut. Suami sepertinya mengambil kesimpulan yang belum utuh, bahwa menjadi single itu pilihan, daripada hidup dikekang suami, menjadikan karir istri terhambat dan seterusnya dan seterusnya. Saya langsung kaget mendengar komentar suami. 

"Ya, Bunda engga akan semudah itu kali bi, menyimpulkan novel ini nantinya. Bunda sudah baca beberapa novel penulis ini, dan tulisannya sangat bermutu, ga akan dia menulis tanpa menyisipkan hikmah di dalamnya. Kalau kesimpulan tulisan ini seperti yang abi duga, Bunda akan berhenti membeli dan membaca buku-buku tulisan beliau" lanjutku menegaskan sikap pada abi.

Seperti dugaanku, abi salah mengambil kesimpulan, hanya dengan membaca tulisan di belakang buku ini. Alhamdulillah, tulisan Mba Sinta masih seperti yang aku harapkan, penuh hikmah.

Novel ini, isinya semua nasehat. Tulisan ini menasehati tentang hidup berkeluarga, tentang hidup bersama pasangan, bagaimana bersikap sebagai pribadi dan sebagai pasangan hidup, bagaimana bersikap dengan saudara dan keluarga besar, juga pada anak-anak. Ternyata sikap atau perilaku yang kita anggap kecil, jika dilakukan secara terus menerus dapat melukai pasangan hidup kita, dan akan menggerus sedikit demi sedikit cinta dan sayang mereka terhadap kita. Wah...bahaya kan?? Apa yang menurut anggapan kita baik, bagus untuk semua anggota keluarga, belum tentu baik dan bagus menurut pasangan hidup kita. Karena kebiasaan kita yang terlalu dominan, kita lupa tidak memberi kesempatan anggota keluarga yang lain untuk memberikan pendapat, bahkan hanya untuk masalah kecil (menurut kita). Nasehat tersebut disampaikan secara tidak langsung melalui tokoh-tokoh di dalam kisahnya, bahkan saya sendiri tidak merasa sedang dinasehati. 

Tokoh yang menurut saya patut ditiru dalam kisah ini adalah Venna dan Orion. Dalam kisah ini Venna, mudah untuk menerima masukan dari orang lain, namun dia tidak gegabah untuk menelan mentah-mentah apa yang disampaikan oleh orang lain. Seperti saat temannya Titi dan kakaknya mengatakan bahwa kita tidak perlu berlelah-lelah membantu orang lain yang tidak butuh bantuan kita, yang mengakibatkan dapat menghabiskan energi kita untuk menjalani hidup sehari-hari. "Bahkan kita tidak perlu membantu orang yang mau bunuh diri sekalipun?" tanya Venna ekstrim. Dan dia mendapatkan jawaban ''ya'' dari kakaknya. Dan hal ini tidak dapat diterima oleh Venna. Dia berpendapat kalau setiap manusia perlu saling berbagi dan menolong, bahkan di saat (tampaknya) orang lain tidak membutuhkan bantuan kita. 

Venna bahkan juga dapat menerima masukan dari Orion adiknya, tanpa mengecilkan usia dan pengalaman hidupnya. Orion memberi masukan kepada Venna tentang sikap dan perilaku Venna kepada suaminya, padahal Orion sendiri belum menikah dan usianya juga di bawah Venna. Tapi Venna adalah pribadi terbuka. Dia dapat menerima kebenaran tersebut dari mana saja datangnya. Orion mampu demikian karena pengalaman hidupnya mendapati orang tua yang bercerai dan setelahnya dia mendampingi dan menjaga Mama seorang diri.

Orion, yang walaupun anak bungsu dan belum menikah, namun dapat bertindak sebagai pelindung bagi kedua kakak perempuan kandungnya. Bahkan mampu menjadi solusi bagi keluarga besarnya. Dia mampu berperan sebagai laki-laki di keluarga besarnya, setelah ditinggal Papanya yang menikah lagi. 

Banyak hikmah dalam dialog tokoh yang bisa kita ambil, yang tidak dapat saya sampaikan di ruang yang terbatas ini. Intinya, sebagai orang yang sudah menikah, kita harus belajar lebih banyak, bagaimana bersikap, bertingkah laku, mampu menempatkan diri sebagai istri atau pun suami. Dialog dan sharing harus terus dijaga dengan pasangan hidup, sesibuk apa pun kita. Jauhkan sikap mendominasi dan mendikte. Lebih banyak mendengar dan bijaksana dalam memutuskan. Ahhh banyak sekali hikmah yang mau kutulis secara detil di sini. Tapi intinya sudah saya sampaikan di tulisan di atas. Pastinya penasaran kan ingin membacanya? Segera temukan dan baca bukunya ya. 😍😍

Jakarta, 10 Syawal 1440 H/14 Juni 2019




     


Wednesday, June 12, 2019

I'tikaf Ramadhan

Alhamdulillah tahun 2019 ini kami sekeluarga bisa melaksanakan i'tikaf walau hanya satu hari di hari ke sembilan dari sepuluh hari terakhir Bulan Ramadhan. Awalnya anak-anak tidak terlalu antusias, tapi saya dan suami motivasi terus (setengah memaksa hehehe), akhirnya berangkat juga ke masjid. Namun karena masih banyak pekerjaan di rumah yang mesti diselesaikan, akhirnya kita ke masjid ba'da (selesai) sholat Isya. Biasanya kita ke masjid ba'da sholat maghrib. Jadi dapat mengikuti sholat Isya berjama'ah dan mendengarkan ceramah.

Ke masjid anak-anak membawa bantal. Sedangkan saya cuma bawa selimut tipis dan ayahnya anak-anak cuma pakai jaket saja. Setelah menyelesaikan sholat tarawih berjama'ah, kami mendaftar di Panitia untuk mengikuti i'tikaf malam itu sampai sahur. Panitia menyiapkan makanan untuk sahur bagi peserta yang sudah mendaftar. Tapi ada juga orang-orang yang tidak mendaftar di Panitia, karena sahurnya di rumah (bagi orang-orang yang rumahnya dekat dengan masjid).  

Ternyata panitia juga menyiapkan air minum mineral (panas dan dingin), beberapa minuman sachet (kopi, teh, gula) dan minuman ringan lainnya. Selain itu panitia juga menyiapkan mie instant dalam cup yang siap diseduh. Anak-anak mendapati hal ini merasa senang dan langsung berkomentar dan bilang sama Bundanya, "Wah asyik banget ya Bun, tahu begini aku dari kemaren-kemaren saja ikut i'tikaf di sini". Bahagia rasanya mendapati anak-anak mulai menikmati malam pertamanya i'tikaf di masjid, walaupun karena motivasi makanan dan minuman. Mudah-mudahan ke depan, anak-anak bisa lebih baik menjalani malam-malam i'tikaf mereka, sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW dan para sahabat.

Setelah sholat tarawih, banyak orang yang membaca Alqur'an. Ada juga yang terlihat dzikir, juga sholat. Bahkan ada juga yang sudah mulai beristirahat. Anak-anak kecil yang jumlahnya puluhan terlihat masih terjaga, menikmati minuman dan makanan kecil yang ada. Mereka terlihat berkelompok bersama teman-teman. Ada yang kenal karena tetangga dekat rumah, ada juga yang kenal karena satu sekolahan atau satu tempat mengaji. Anak sulungku ijin keluar membeli makanan, katanya masih lapar. Karena usianya yang sudah besar, saya mengizinkannya ke luar masjid untuk membeli makanan yang dimaksud. Sepulang jajan, dia bersama dua adiknya duduk di teras masjid sambil menikmati makanan yang baru dibeli. 

Sekitar jam 23.00-an, saya, suami dan anak-anak mulai beristirahat dalam lokasi yang terpisah, laki-laki dan perempuan. Namun masih banyak orang-orang yang masih tilawah Alqurán. Sekitar jam 02.15, panitia mulai membangunkan jamaáh untuk melaksanakan Qiyamul lail berjamaáh. Anak-anak masih tertidur saat qiyamullail. Sepertinya masih mengantuk berat, apalagi tidurnya juga terlambat dari hari biasanya. Mereka baru dibangunkan saat makan sahur, sekitar jam 03.40. Panitia sudah mulai membagikan makanan sahur kepada jamaáh berbentuk nasi box. Saat makan sahur, keluarga dibolehkan berkumpul dalam satu lokasi, di lokasi ikhwan (laki-laki), karena ada anak-anak kecil yang masih membutuhkan bantuan ibunya saat makan sahur. 

Setelah sholat shubuh selesai, anak-anak sudah mulai tiduran lagi. Khawatir mereka tertidur lagi di masjid, sementara saya masih ada pekerjaan di rumah, akhirnya kita memutuskan untuk pulang saat ceramah shubuh masih berlangsung. Akhirnya kita sampai di rumah saat suasana masih sedikit gelap. 

Ternyata ramai juga orang-orang yang i'tikaf di masjid. Ada hikmahnya ga bisa mudik tahun ini, sehingga bisa menikmati i'tikaf walau hanya satu malam. Semoga tahun berikutnya bisa lebih baik lagi. Semoga anak-anak pun, menikmatinya dan bisa membekas dalam dirinya, sampai mereka dewasa kelak. 

Malam I'tikaf saat itu, Senin 3 Juni 2019 di Depok



Monday, April 15, 2019

Perjalanan ke Kota Mamuju Sulawesi Barat

Perjalanan dari Jakarta menuju Mamuju Sulawesi Barat, pesawat transit di Makassar, dan ganti pesawat dengan yang lebih kecil dengan seat 2-2. Pesawat mendarat di Bandara Tampa Padang yang terletak di Kecamatan Kalukku Kabupaten Mamuju. 


Menumpang Batik Air dari Jakarta Transit Makassar

Transit di Makassar dan Ganti Pesawat dengan Wings Menuju Mamuju
Mendarat di Bandara Tampa Padang Mamuju
Bandara Tampa Padang Mamuju Sulawesi Barat