Wednesday, February 19, 2020

Bijak Menyikapi Pelaporan Bullying


Di suatu pagi sesaat setelah paket internet diaktifkan, saya langsung mengecek pesan whatsapp (wa) yang masuk. Saya kaget mendapati salah satu pesan wa yang masuk. Dari salah seorang guru anak saya yang ke dua (anak tengah, usia 12 tahun). Pak Guru  meminta saya datang ke sekolah menemuinya untuk membicarakan sesuatu yang ingin disampaikan secara langsung. Saya sedikit shock dan bertanya-tanya dalam hati, ada apa gerangan dengan si Tengah? Apakah berkelahi dengan temannya? Berbuat iseng yang membahayakan temannya? Saya bingung dan deg-degan. Saya segera membalas wa Pak Guru, "Baik Pak, insyaallah saya ke sekolah besok". 

Saya tidak bertanya lebih lanjut tentang hal apakah gerangan yang menyebabkan saya diminta untuk datang dan menemui Pak Guru. Saya berusaha memahami, bahwa masalah ini tidak bisa disampaikan by wa or by phone sekalipun, agar tidak terjadi salah paham. Namun dari seorang ibu siswa lain (sebut saja Ibu A) yang juga mendapat pesan wa yang sama dari Pak Guru, saya mendapatkan sedikit informasi. Ibu tersebut menyampaikan bahwa ada laporan dari orang tua siswa (sebut ibu B) ke guru tentang adanya bullying pada anak ibu B yang diduga dilakukan oleh anak ibu A dan anak saya si Tengah. Astaghfirullah, saya kaget dapat kabar itu. Ibu A yang mengirim pesan wa ke saya, yang anaknya juga disebut pelaku dalam pengaduan ibu B sangat shock. Kami sama-sama shock mendapat pesan wa tersebut. Namun saya berusaha menenangkan ibu A (sambil berusaha menenangkan diri sendiri) dengan mengirimkan pesan wa, agar kita nanti bisa hadir di seolah menemui Pak Guru dan mendengar cerita kejadian secara lebih jelas. Dan tidak dapat dipungkiri, hati saya ingin menyangkal laporan tersebut, karena saya merasa anak saya sudah saya didik dengan baik. Tetapi saya berusaha tetap objektif dan berdo'a memohon pada Sang Penguasa hati, bahwa hal ini hanya kesalahpahaman saja. Seraya menyiapkan diri jika anak saya memang terbukti bersalah. 

Pikiran saya langsung melayang pada kejadian dulu, yang mirip dengan hal ini. Di suatu siang saat jam kerja berlangsung, saya mendapat telpon dari guru si Sulung (saat itu usianya sekitar 10 tahun-an). Di ujung telpon ibu guru si Sulung melaporkan tentang kejadian, dimana anak saya menginjak kacamata temannya. Kacamata tersebut pecah dan framenya rusak. Saya shock mendapatkan telepon yang membawa kabar tidak mengenakkan itu. Saya mencoba meminta penjelasan lebih lanjut tentang kronologis kejadian tersebut. Dan ternyata sebelum menelpon saya, ibu guru belum mengkroscek kepada anak-anak tentang peristiwa yang terjadi. Dan pembicaraan pun berakhir, karena ibu guru minta waktu untuk mengkroscek pada anak-anak. Saya kecewa sekaligus kesal dibuatnya.  


Sumber: Bobo.grid.id

Saat itu otak saya berpikir keras mencoba membayangkan apa yang sudah dilakukan si Sulung? Bagaimana dia bisa menginjak kacamata temannya? Apakah kacamata temannya jatuh, kemudian si Sulung menginjak-injak kacamata tersebut? Aku berusaha menyangkal pikiran tersebut. Rasanya ga mungkin dia setega itu pada orang lain. I know  my son so well. Tapi saya berusaha menepis perasaan pembelaan yang muncul tersebut. Berusaha objektif menyikapi hal tersebut. Terkadang orang tua tidak tahu sikap dan perilaku anak saat di luar jangkauan dan pantauan orang tua. Pikiran saya terus mengira-ngira kejadian tersebut. Apakah dia merebut kacamata temannya kemudian membantingnya ke lantai dan menginjak-injak kacamata tersebut? Arggghhh ini lebih menyeramkan. Aku tidak sanggup membayangkannya. Hancur rasanya hatiku kalau hal tersebut benar-benar terjadi, rasanya aku menjadi orang tua terburuk di dunia. Ya Allah. Aku bingung. I am really shock. 😕

Beberapa jam kemudian, saya terhubung kembali dengan ibu guru. Tahu apa cerita ibu guru? Ibu guru menyampaikan, Si Sulung berlari-lari di kelas dengan beberapa temannya, dan naik ke atas bangku. Saat menginjak bangku, dia menginjak tas temannya yang ada di atas bangku itu, yang ternyata di dalamnya ada kacamata. Kacamata tersebut bukan kacamata minus tapi kacamata anti debu/angin yang biasa dipakai saat naik motor. Satu sisi saya lega dengan penjelasan ibu guru, namun di sisi lain saya kesal. Jika dari awal ibu guru sudah mengkroscek kepada anak-anak yang terlibat tentang kronologis kejadian, mungkin hal tersebut bisa diselesaikan bersama siswa tanpa perlu melibatkan orang tua. Hal-hal tersebut pastinya sering terjadi di sekolah. Namun karena mungkin sudah paranoid dengan "bully" atau juga mungkin karena sudah melabel anak sebagai siswa nakal maka hal kecil menjadi besar. Dan dampaknya jangan disepelekan, akan menimbulkan label negatif pada anak, yang bisa melekat sepanjang hidupnya, dan bisa melahirkan rasa benci.  

Di lain waktu, gurunya si Tengah menelpon saya. Di telepon ibu guru menyampaikan kalau ada orang tua siswa perempuan kelas lain yang melapor ke kepala sekolah kalau anak saya sudah memukul anak perempuan tersebut. Saya lagi-lagi bertanya kronologis kejadian, karena saya sudah berpengalaman dengan laporan-laporan para guru sebelumnya. Lagi-lagi guru ini tidak bisa menjelaskan secara rinci, yang menunjukkan anak saya bersalah. Saya menanyakan ke ibu guru, apakah ada saksi yang melihat kejadian pemukulan oleh anak saya? Apakah teman-teman yang bermain bersama ada yang melihat? Apakah sekolah punya CCTV yang bisa memantau semua kejadian? Gurunya tidak bisa menjelaskan. Sorenya sesampai saya di rumah, saya duduk ngobrol dengan si Tengah, dan bertanya tentang kegiatan sekolahnya hari itu. Dan saya berusaha menanyakan peristiwa ''pemukulan'' tersebut dengan hati-hati, menjauhi kata-kata menuduh dan mendakwanya, karena saya ingin mendapatkan jawaban jujur tanpa dia perlu takut menceritakan kejadian sesungguhnya. Berbekal ilmu perkembangan dan pengasuhan anak yang pernah saya dapatkan saat kuliah dulu, saya berusaha menyikapi kejadian ini dengan bijaksana. Dan saya berusaha untuk tidak terburu-buru melakukan pembelaan karena dia anak saya, atau karena setahu saya dia anak yang baik. Saya berusaha objektif menyikapi hal ini.

Setelah semua cerita berbagai versi ditampung, cerita kejadian tersebut adalah si Tengah (saat itu usia sekitar 8 tahun) saat itu bermain berlarian bersama teman-teman cowok sekelas di lapangan sekolah. Saat berlarian, tangannya mengenai siswi perempuan kelas lain yang juga bermain di lapangan. Namun karena mereka sedang berlari-lari berkejaran, kejadian tersebut terabaikan, dan terus lanjut bermain. Namun bagi siswi yang kena tadi, mungkin berasa sakit, dan mengadu pada orang tuanya di rumah. Namun dengan menggunakan kata memukul. Bisa dibayangkan berapa banyaknya siswa yang bermain di lapangan saat jam istirahat? Berlarian ke sana kemari, yang terkadang tanpa sadar menyenggol teman. Saya sampaikan kepada ibu guru, agar saya dapat dipertemukan dengan orang tua siswi yang melapor tersebut untuk meminta maaf sekaligus menjelaskan kronologis kejadian, biar dia paham. 

***********

Beberapa kejadian di atas menunjukkan bahwa masih ada guru dan orang tua yang ternyata belum paham apa itu bully? Mereka sepertinya menganggap bahwa setiap kejadian apapun yang merugikan atau pun menyakiti (dengan semua tingkat kesakitan) anaknya itu adalah bully. Ya ampun, bisa gawat kalau orang tua atau guru  pemahamannya seperti ini. Bisa-bisa para guru akan disibukkan dengan laporan bully setiap hari, dan tugas utamanya mengajar di kelas jadi terabaikan. 

Yuuk sekarang mari kita bahas sama-sama definisi bully.
Menurut Olweus (1994), bullying merupakan tindakan negatif yang dilakukan seseorang atau lebih yang dilakukan secara berulang dari waktu ke waktu. Menurut Tim (2008), bullying adalah tindakan penggunaan kekuasaan untuk menyakiti seseorang atau sekelompok orang baik secara verbal, fisik, mau pun psikologis sehingga korban merasa tertekan, trauma dan tidak berdaya. Sejalan dengan definisi di atas, Kementrian Perlindungan Perempuan dan Perlindungan Anak (2020) dalam salah satu dokumennya menjelaskan tentang pengertian bullying (dalam Bahasa Indonesia dikenal sebagai “penindasan/risak”), yaitu segala bentuk penindasan atau kekerasan yang dilakukan dengan sengaja oleh satu orang atau sekelompok orang yang lebih kuat atau berkuasa terhadap orang lain, dengan tujuan untuk menyakiti dan dilakukan secara terus menerus. Terdapat banyak definisi mengenai bullying, terutama yang terjadi dalam konteks lain seperti di rumah, tempat kerja, masyarakat, komunitas virtual. Namun dalam hal ini dibatasi dalam konteks school bullying atau bullying di sekolah. Riauskina, Djuwita, dan Soesetio (2005) mendefinisikan school bullying sebagai perilaku agresif yang dilakukan berulang-ulang oleh seorang atau sekelompok siswa yang memiliki kekuasaan, terhadap siswa/siswi lain yang lebih lemah, dengan tujuan menyakiti orang tersebut. Jadi bisa disimpulkan bahwa tindakan kekerasan yang termasuk bully adalah yang dilakukan secara sengaja dan menyebabkan korban menjadi tertekan, trauma dan tidak berdaya. Kata kuncinya adalah kekerasan yang dilakukan secara SENGAJA, ada niatan sebelum melakukannya. 


************

Tulisan saya ini tidak hendak menganggap remeh bullying. Saya hanya ingin menggarisbawahi sikap terburu-buru para guru dan orang tua (yang sudah paranoid dengan bully) dalam menyikapi kejadian kekerasan yang terjadi. Semuanya seperti masuk dalam kategori bullying. Apalagi terkadang mereka tidak berusaha melakukan tabayyun atau croscek di awal, pada semua pihak yang terkait dengan kejadian. Terburu-buru dalam memvonis sebuah kejadian adalah bullying berikut dengan menjatuhi hukuman pada anak yang diduga pelaku, sama buruknya dengan akibat bullying itu sendiri. So, the keyword is crosschecking.

Seperti kisah seorang ibu yang mengirimkan video ke grup wa orang tua sebuah sekolah. Dalam video itu terlihat ibu yang memposting video tersebut sedang memarahi anaknya (yang diduga oleh sebagian besar ibu adalah pelaku bullying). Sebelum video tersebut dikirim ke grup, para orang tua ramai membicarakan anak tersebut di grup yang sama, tanpa mereka sadar ibu yang posting video ada dalam grup. Pastinya ibu tersebut hatinya panas, shock, bingung dan juga marah saat anaknya menjadi perbincangan para orang tua. Akhirnya video tersebut dia posting di grup. Mungkin dia bermaksud untuk memberitahu mama-mama di grup, bahwa dia juga mendidik anaknya, dan sudah menegur anaknya agar tidak melakukan perbuatan (yang dituduhkan) tersebut. Bisa jadi, tidak sedikit orang tua seperti ibu ini, yang tidak mampu menyikapi anaknya yang (dilaporkan dan dituduh) melakukan perilaku negatif. 

Wallaahualam bishowab. 

Referensi:
https://www.kemenpppa.go.id/lib/uploads/list/8e022-januari-ratas-bullying-kpp-pa.pdf diakses tanggal 19 Februari 2020.
Olweus, D. (1994). Bullying at School: What We Know and What We Can Do. Australia: Blackwell Publishing.
TimSejiwa. (2008). Bullying: Panduan bagi Orang Tua dan Guru Mengatasi Kekerasan di Sekolah dan Lingkungan. Jakarta: Grasindo.



Jakarta, 19 Feb 2020
Saat mendapatkan kabar ''perginya" 
3 anak manusia ke haribaanNya,
dan 4 hari setelah WNI dari Cina yang dikarantina di Natuna
 dipulangkan ke kampungnya masing2
  

Monday, February 3, 2020

Tradisi Cium Tangan

Di keluarga saya, kedua orang tua tidak membiasakan anak-anaknya untuk mencium tangan orang tua. Bahkan kami bersalaman dengan orang tua hanya di waktu-waktu tertentu saja. Misalnya baru pulang ke rumah setelah lama di suatu daerah atau tempat. Atau saat Hari Raya. Boleh dibilang kami sangat jarang bersalaman dengan orang tua. Tapi walau demikian tradisi di keluarga kami, tidak sedikit pun mengurangi rasa hormat dan takzim kami kepada kedua orang tua.

Demikian juga yang terjadi di keluarga besar saya. Saya bersama saudara dan sepupu, tidak pernah mencium tangan nenek kakek, juga saudara ayah dan ibu, kecuali dalam kondisi sudah lama tidak bertemu atau pada saat hari-hari besar. Ketika kami bertemu dengan nenek kakek atau saudara ayah dan ibu, kami hanya bersalaman tangan tanpa perlu mencium tangan mereka. Tapi, lagi-lagi itu tidak mengurangi rasa hormat dan penghargaan kami pada yang lebih tua.

Di sekolah pun, sejak saya bersekolah di TK sampai SMA di Kota Bukittinggi di tahun 1980-1990 an, saya tidak biasa dan sekolah pun tidak membiasakan para siswa mencium tangan guru-guru. Itu pun tidak mengurangi rasa hormat kami para siswa kepada guru-guru yang telah mengajarkan kami banyak ilmu. 

*******

Saat saya kemudian hijrah ke tanah Pasundan selepas SMA, saya berinteraksi dengan banyak teman dari beragam budaya dan latar belakang yang berbeda-beda. Saya yang lahir dan dibesarkan di Kota Bukittinggi, dengan budaya Minangkabau berteman dengan orang-orang dari seluruh penjuru Indonesia. Sebelumnya saya tidak pernah tinggal di kota lain sampai saya menamatkan sekolah di SMAN. Banyak cerita dan pengalaman yang diperoleh dari interaksi pertemanan tersebut. 

Suatu kali saya diajak teman satu kost untuk ikut bersamanya pulang ke kampungnya saat libur beberapa hari. Saat bertemu kedua orang tuanya saya mencium tangan mereka, karena saya hanya meniru apa yang dilakukan teman saya kepada kedua orang tuanya. Ditambah lagi kedua tangan orang tuanya, seperti reflek menggerakkan tangannya ke arah wajah saya. Itulah kali pertama saya mencium tangan orang yang lebih tua dari saya. 

Tentang cium tangan kepada yang lebih tua ini pernah menjadi topik obrolan saya bersama teman kost. Teman-teman saya menganggap mencium tangan orang yang lebih tua adalah bentuk penghormatan kepada mereka, jadi jika hal tersebut tidak dilakukan itu berarti kita tidak memiliki penghormatan kepada yang lebih tua. Saya yang tidak memiliki tradisi itu di keluarga tentu saja tidak setuju dengan pendapat tersebut. Hanya saja saya mulai memahami bahwa mencium tangan bagi sebuah keluarga atau masyarakat tertentu, adalah sesuatu yang dianggap penting dan bahkan menjadi sebuah keharusan. 


*********

Bagaimana pandangan Islam terkait mencium tangan ini? Berikut saya ambil penjelasan dari Ustadz Farid Nu'man. Menurut beliau, mencium tangan orang tua, paman, guru, ulama atau pemimpin, untuk menghormati, memuliakan, karena kebaikan dan keshalihannya adalah boleh, tidak apa-apa. Hal ini berdasarkan pendapat Imam Al Bahuti Rahimahullah: "Dibolehkan mencium tangan dan kepala karena faktor agama, pemuliaan, penghormatan, jika aman dari syahwat. Secara zhahir menunjukkan tidak boleh jika alasannya duniawi, dan itu diartikan larangan'' (Kasysyaaf Al Qinaa', 2/157). 

Ustadz Farid Nu'man menjelaskan lebih lanjut, dalam Al Mausu'ah disebutkan: ''Boleh mencium tangan seorang ulama yang wara', pemimpin yang adil, kedua orang tua, ustadz dan setiap orang yang pantas dihormati dan dimuliakan, sebagaimana boleh juga mencium kepala, jidat dan diantara dua mata. Tetapi semua itu jika disebabkan oleh kebaikan, kemuliaan, kasih sayang saat bertemu dan berpisah, dan faktor agama, dan selama aman dari syahwat. 

Ustadz Farid menutup penjelasannya dengan mengutip perkataan Imam Ibnu Baththal: "Imam Malik mengingkari cium tangan, dan mengingkari riwayat tentang hal itu".          
''Al Abhariy mengatakan pengingkaran Imam Malik itu jika disebabkan kesombongan sedangkan jika maksudnya sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah karena bagus agama, ilmu atau kemuliaannya, maka hal itu tidak apa-apa (Al Mausu'ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyah, 13/131). Wallaahu A'lam.

Namun perlu diperhatikan saat bersalaman yaitu apakah yang disalami masuk dalam kategori muhrim apa bukan (ini pembahasannya akan panjang lagi).

*******

Setelah saya menikah, suami tidak pernah meminta saya untuk mencium tangannya. Dan kali pertama saya mencium tangannya adalah usai akad nikah. Dan saya tahu bahwa di keluarganya tradisi mencium tangan orang yang lebih tua adalah sesuatu yang telah lama dibiasakan. Oleh karenanya, sebagai orang yang dilahirkan di alam Minangkabau yang memegang nasehat orang tua-tua jaman dahulu: "Dima bumi dipijak di situ langik dijunjuang" (dimana kita berada, ikutilah segala aturan dan norma yang berlaku), saya berupaya mengikuti tradisi keluarga suami dimana seseorang dianjurkan mencium tangan orang yang lebih tua. Sejak saat itu saya terbiasa mencium tangan suami dan kedua orang tuanya. Dan suami juga mencium tangan kedua orang tua saya. Dan sejak itulah saya ikut mencium tangan kedua orang tua saya. Awalnya serasa aneh dan kaku, karena tidak terbiasa dari kecil, namun dalam hati saya niatkan karena saya menghormati dan menyayangi mereka.

Sampai hari ini di saat kami memiliki tiga orang buah hati, bahkan si sulung sudah remaja, saya tetap melakukan kebiasaan mencium tangan suami dan orang tua. Saat saya berangkat kerja setiap pagi saya selalu pamit dan mencium tangan suami. Saat mencium tangan suami, menjabat tangannya dengan penuh, saya merasakan sesuatu yang membuat perasaan saya nyaman. Saya tidak bisa mendeskripsikan apa yang saya rasa setiap melakukan ''ritual'' pagi ini, hehehe lebay ya. Pastinya perasaan saya nyaman, damai, and full of love 💓 😍😍. Mungkin tulisan 10 Keutamaan Istri Mencium Tangan Suami ini dapat mewakili perasaan saya saat mencium tangan suami. Saya berharap mendapatkan kebaikan dari rutinitas pagi ini 😊

Menurut Ustadz Abul Aswad Al Bayati dalam Bimbingan Islam, Beliau menjelaskan bahwa dalam  Fatwa Islam No 28906: "Tidak mengapa seorang wanita mencium tangan suaminya, dan itu termasuk pergaulan yang baik. Dan ia diberikan pahala atasnya baik faktor yang mendorong untuk melakukannya karena keta'atan maupun karena syahwat, dan hanya Allah saja yang Maha Mengetahui''

Sejak menikah tradisi mencium tangan bagi yang muda kepada yang lebih tua sudah menjadi kebiasaan saya sekeluarga. Saya sudah terbiasa mencium tangan kedua orang tua dan mertua. Saya membiasakan anak-anak untuk mencium tangan orang yang lebih tua (sepanjang masih dalam kategori muhrim bagi mereka), sebagai bentuk penghormatan mereka kepada yang lebih tua. 
Wallaahu 'Alam


Referensi:



Tuesday, December 10, 2019

Thypus Kambuh Lagi dan Lagi

Pekan lalu di saat cuti padahal, penyakit thypus ini kambuh lagi untuk kesekian belas kali, saya sampai lupa pastinya kali yang ke berapa. Penyakit ini semakin ke sini semakin sering kambuh. Menurut Dokter, bakterinya dorman (menetap) dalam tubuh, dan akan aktif kembali pada suatu saat. 

Sebetulnya ingin sembuh total tanpa kambuh lagi. katanya bisa. katanya ada, tapi saya belum tahu bagaimana teknisnya. Sakit typus itu tidak enak banget. Ya iyalah, mana ada sakit yang enak...hehehe. Saat sakit ini menyerang, kepala rasanya sakit dan kliyengan. Perut mual dan eneg, ga nyeri sich. Nafsu makan terganggu karena mulut pahit. Tapi ke sini-sini sich nafsu makan tidak terlalu mengganggu. Ke sini-sini makan masih enak saat thypus melanda.

Pertama kali menderita sakit ini adalah tahun 1995. Saat itu saya baru menjadi mahasiswa di Bogor, ribuan km dari rumah. Mana saat itu menjelang ujian semester. Saya hanya dirawat oleh teman sekamar di kost an. Saya tidak dirawat di RS karena bingung bagaimana nanti di sana, siapa yang mengurus, dll nya. Saya lupa bagaimana detilnya peristiwa itu. yang saya ingat, demam saya sangat tinggi, dimana tempat tidur sapai bergoyang karena badan saya sampai menggigil hebat. Saya merasa kedinginan, sampai menggunakan berlapis pakaian dan juga selimut, tapi masih berasa dingin, padahal teman yang menyentuh saya mengatakan kalau badan saya panas.

Penyakit thypus saya kambuh lagi di tahun 2003. Saat itu saya sudah bekerja dan sedang dalam proses menikah. Karena tidak ada yang akan mengurus saat saya sakit, saya sampai diantar kakak saya pulang kampung menggunakan pesawat dengan waktu terbang sekitar dua jam. Sampai di rumah, saya diajak ke dokter lagi oleh orang tua. Selama di rumah, saya dirawat dengan baik oleh ibu. Sangat dijaga makanan saya oleh ibu. Sama sekali tidak dibolehkan beraktifitas. 

Kambuh yang ketiga dan seterusnya saya sudah lupa. 

Beberapa kali divonis sakit thypus karena hasil test Widal. Waktu sakit parah, titer test widal itu sampai besar dari 1/320. Tapi ke sini-sini hasil titernya hanya sampai 1/160 bahkan ada yang cuma 1/80. Namun badan saya merasa tidak enak, kepala sakit kliyengan, mual dan eneg. Sangat mengganggu aktifitas. 

Kambuh yang terakhir ini, menyebabkan saya tidak jadi berangkat ke luar kota untuk suatu kegiatan, sehingga akhirnya tiket pesawat pulang dan pergi terpaksa dibatalkan karena kondisi tubuh yang tidak bisa dipaksakan. 

Saya ingin sembuh total dari penyakit ini. 



Saturday, November 30, 2019

Transportasi Jakarta yang Terus Berbenah

Sudah kali ke sekian saya naik Bus Transjakarta trayek Univ Indonesia - Lebak Bulus. Menggunakan bus ini terasa sangat nyaman dan murah.  Penumpang membayar dengan menggunakan kartu, yang ditempelkan ke mesin bayar. Namun sekarang ini penumpang yang belum memiliki kartu masih dapat membayar secara cash ke keneknya. Penumpang hanya dikenakan biaya Rp 3.500/orang dengan jarak tempuh 12 km. Sangat murah bukan? 😊

Sebelumnya saya naik angkot dengan tujuan yang sama tiap hari. Saya harus dua kali naik angkot atau menyambung perjalan ke tujuan dengan menggunakan dengan ojek online. Seringnya naik angkot ini terasa tidak nyaman dan tidak menyenangkan. Beberapa kali sopir suka ngetem, menunggu calon penumpang dalam waktu yang cukup lama. Belum lagi cara sopir mengendarai angkotnya dengan suka-suka, menginjak rem di saat kecepatan cukup tinggi, dan sebaliknya. Penumpang terkadang tidak dilayani secara baik dan nyaman serta aman. Ditambah lagi asap rokok yang sering ngebul dalam angkot, bukan dari penumpangnya, tapi seringnya dari sopir. Sekarang ini saya hampir tidak pernah lagi menjumpai penumpang yang merokok di angkot. Tapi kalau sopir yang merokok siapa yang berani menegur? 😬

Sejak beralih ke bus ini, hampir selalu saya bisa memprediksi lamanya perjalanan yang saya tempuh dari rumah ke tempat kerja. Hal ini karena bus ini tidak pernah ngetem lama di haltenya. Walaupun terkadang tidak terlihat penumpang yang menunggu di halte, bus ini tetap berhenti dan membuka pintu. Namun segera tutup dan kemudian kembali melaju.

*****

Setahun terakhir sudah banyak trayek bus ini dari Depok ke berbagai wilayah di Jakarta. Ini sangat membantu warga Jawa Barat yang berada di Kota Depok untuk melakukan perjalanan rutin tiap hari ke wilayah Jakarta bolak balik. Dulunya kereta menjadi andalan utama warga pinggiran menuju Jakarta. Sekarang sudah ada alternatif transportasi yang nyaman dan terjangkau. Sangat manusiawi.

Semoga ini menjadi salah satu solusi mengurangi kemacetan di Jakarta dan wilayah sekitarnya. Agar orang-orang yang biasanya membawa kendaraan roda empat atau pun roda dua pulang pergi bekerja, mau beralih ke alat transportasi ini. Selain mengurangi kemacetan juga menghemat ketersediaan bbm, yang semakin menipis dan tidak terbarukan.